Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya.....
Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.
Lalu bagaimana dengan Papa?
Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,
tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?
Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil......
Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.
Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu...
Kemudian Mama bilang : "Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya" ,
Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka....
Tapi sadarkah kamu? Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.
Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.
Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang"
Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
Saat kamu sakit flu, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :
"Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!".
Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.
Ketika kamu sudah beranjak remaja....
Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: "Tidak boleh!".
Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?
Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga..
Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu...
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama....
Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?
Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia.... :�)
Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..
Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?
Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.
Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir...
Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut - larut...
Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .
Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?
"Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa"
Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti...
Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa
Ketika kamu menjadi gadis dewasa....
Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain...
Papa harus melepasmu di bandara.
Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?
Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .
Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.
Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik ya sayang".
Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT...kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.
Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan...
Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : "Tidak.... Tidak bisa!"
Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan "Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu".
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat "putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang"
Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.
Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..
Karena Papa tahu.....
Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.
Dan akhirnya....
Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia....
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?
Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa....
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: "Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik....
Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik....
Bahagiakanlah ia bersama suaminya..."
Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk...
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih....
Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya....
Papa telah menyelesaikan tugasnya....
Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita...
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat...
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis...
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal.
>> US_notes
coretannya HD
Assalaamu ‘alaikum Wr. Wb. heyho siapa saja selamat datang diblog gw..!! sebelum dan sesudah terima kasih yang telah meluangkan waktunya untuk sekedar mampir atau numpang lewat diblog ini.dan ini bukan tulisan tapi ini hanya coretan saja diwaktu iseng..
Rabu, 10 Maret 2010
Senin, 08 Maret 2010
CINTA DALAM SEPOTONG GINJAL
Bagaimana rasanya memiliki organ dalam tubuh saudara, anak, ibu atau ayah kandung, atau justru milik orang lain yang tidak diketahui jati dirinya sama sekali? Apakah jika ada saudara, teman atau orang lain yang Anda kasihi membutuhkan salah satu organ tubuh Anda, akan langsung Anda berikan dengan segala resikonya?
Tidak ada satupun orang yang ingin mengalami penyakit gagal ginjal. Tapi jika suatu saat Anda divonis secara mendadak menderita penyakit sistem pengolahan limbah tubuh ini, hanya ada dua pilihan solusi. Cuci darah seumur hidup atau cangkok ginjal. Kisah-kisah perjuangan susahnya mencari donor ginjal, kerelaan memberikan ginjal dan susahnya melakukan cangkok ginjal.
Seorang Afaf Susilawati, mengaku sangat senang dan berbahagia memberikan satu ginjalnya buat sang Adik tercinta, Huda Rosdiana Biarawati. Ia tak berpikir dua kali, jika untuk tindakannya itu, ia kini harus hidup dengan satu ginjal saja. Sebuah hal yang tentunya sangat beresiko untuk hidupnya ke depan. Huda yang divonis komplikasi ginjal saat usia 19 tahun, akhirnya menjalani transplantasi ginjal dari Afaf pada 2001 silam. Untungnya Huda hidup di tengah keluarga yang saling menyayangi sepenuhnya. Seluruh kakak bahkan ibunya sampai harus “berebut” untuk mendonorkan ginjal mereka.
Tanpa disadari yang lain, Afaf secara diam-diam langsung melakukan pemeriksaan ke dokter, dan memutuskan ginjalnya-lah yang akan dicangkokkan ke Huda tanpa bisa dicegah yang lainnya. Huda akhirnya sukses cangkok ginjal. Namun ia hanya mampu bertahan selama 6 tahun saja. Ia menghembuskan nafas terakhirnya pada 2007 lalu, setelah perjuangan kerasnya melawan virus yang menyerang ginjal barunya. Kisah perjuangan Huda yang direkamnya dalam diari hariannya, akhirnya dibukukan oleh kakak lainnya, Siti Darojah.
Sementara Dadang Maulana, harus merasakan pukulan pahit pada usia 22 tahun. Nasibnya bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga. Beberapa saat setelah dinyatakan gagal lolos tes kesehatan seleksi masuk sebuah BUMN setamat kuliah, ia langsung dihadapkan pada vonis mengejutkan dari dokter. Ia mengalami gagal ginjal terminal alias stadium akhir. Ia mengaku tak merasakan atau mengalami gejala apapun, sehingga sangat membuatnya down. Saat disampaikan pada keluarga besar, seluruh keluarganya mendukung penuh untuk ia melakukan cangkok ginjal. Masalahnya, ginjal siapa?
Tak dinyana-nyana, sang ayah yang sudah lama berpisah sejak perpisahan dengan sang ibu, menyatakan merelakan ginjalnya untuk Dadang. Mucharam yang saat itu berusia 56 tahun, siap menanggung segala resiko karena faktor usianya. Dan kini, ayah dan anak itu telah berhasil mengarungi hidup sejak 1989 hingga kini dengan segala perjuangannya berusaha tetap sehat. Dadang dengan ginjal sang ayah, dan Mucharam dengan satu ginjalnya. Apa resep mereka mampu bertahan hingga 21 tahun lamanya?
Nasib Basyrah Nasution, tak jauh beda dengan kisah Dadang. Basyrah yang menjalani hidup secara sangat higienis, ternyata tak mampu menghindar dari vonis gagal ginjal kronis. Padahal Basyrah tak pernah merokok, selalu berolahraga secara rutin dan teratur, serta tak pernah mengkonsumsi obat-obatan antibiotik selama 10 tahun terakhir. Namun vonis yang berujung pada keharusan cangkok ginjal itu, tak membuat Basyrah dan sang istri, Sari Meutia terpuruk. Terutama Sari, yang selama ini menganggap hidupnya sudah too good to be true bersama Basyrah dan dua putra mereka. Sari justru terpacu untuk mencari solusi terbaik demi Basyrah, yang harus istirahat total dari pekerjaannya sebagai seorang kontraktor.
Sari menghabiskan hari-harinya untuk mencari informasi lewat berbagai sumber, cara dan tempat. Sedikit berbeda dengan kisah Huda dan Dadang yang didukung penuh keluarga besar, upaya pencarian donor ginjalnya, agak terbentur dari pandangan “kolot” keluarga besarnya, yang takut dengan resiko hidup dengan satu ginjal. Perjuangan keras Sari pun akhirnya berlabuh sampai di negeri tirai bambu, China. Perjuangan untuk transplantasi ginjal dengan ginjal orang China tak dikenal yang sedikit berbau “ilegal”, akhirnya sukses dilakukan pada 2009 lalu. Soal biaya, ada kisah mengharukan dari putra bungsunya, Avi, yang pernah berkata padanya “Mama, kalau biaya operasi Ayah kurang, jual Avi aja dulu buat menambahi sisanya, ntar, kan Mama bisa cari uang lagi untuk menebus Avi…”
Dan kisah die hard terakhir, dituturkan oleh Sonny F. Hadiwarsito. Boleh jadi Sonny adalah satu-satunya manusia di Indonesia, mungkin juga dunia, yang hidup dengan 4 ginjal karena telah menjalani cangkok ginjal hingga dua kali. Belum cukup, kini ia bersiap-siap untuk melakukan cangkok ginjal yang ketiga kalinya. Pengusaha properti dan dosen yang hobi otomotif ini, berjiwa pejuang sejati. Saat menekuni hobi otomotifnya, ia mengalami kecelakaan hebat. Akibatnya, ia harus hidup dengan tulang kaki palsu dan cacat tangan seumur hidup. Namun hal ini tak menyurutkan aktivitasnya. Hingga akhirnya ia divonis gagal ginjal kronis akibat konsumsi rutin obat antinyeri untuk sakitnya, serta imbuhan hipertensi yang dideritanya. Ia tak mau menyusahkan keluarganya, karena untuk menjadi donor ginjal diperlukan keikhlasan yang luar biasa. Dan China menjadi tujuan akhirnya untuk transplantasi ginjal pada tahun 2000.
Sukses cangkok ginjal, ia tak mau terkungkung aktivitasnya. Ia tetap menjalankan perusahaan, mengajar di kampus dan menekuni hobinya. Alhasil, ia terserang virus yang menggerogoti ginjal barunya. Ia pun harus ke China lagi, menambah jumlah ginjalnya hingga menjadi 4 buah pada tahun 2005 silam. Tak berakhir deritanya, kini ia divonis gagal ginjal untuk ketiga kalinya. Cuci darah kini harus dijalaninya seminggu tiga kali. Namun ia tetap tak menampakkan profil seorang yang menanggung beban super berat. Berkat dukungan istri tercinta, Sonny melalui hidupnya dengan semangat. Selain tiga aktivitas utama, ia justru menambahnya dengan menjadi seorang motivator dan mendirikan yayasan ginjal, untuk memberikan konseling dan bantuan bagi sesama penderita gagal ginjal. fb_ka
Tidak ada satupun orang yang ingin mengalami penyakit gagal ginjal. Tapi jika suatu saat Anda divonis secara mendadak menderita penyakit sistem pengolahan limbah tubuh ini, hanya ada dua pilihan solusi. Cuci darah seumur hidup atau cangkok ginjal. Kisah-kisah perjuangan susahnya mencari donor ginjal, kerelaan memberikan ginjal dan susahnya melakukan cangkok ginjal.
Seorang Afaf Susilawati, mengaku sangat senang dan berbahagia memberikan satu ginjalnya buat sang Adik tercinta, Huda Rosdiana Biarawati. Ia tak berpikir dua kali, jika untuk tindakannya itu, ia kini harus hidup dengan satu ginjal saja. Sebuah hal yang tentunya sangat beresiko untuk hidupnya ke depan. Huda yang divonis komplikasi ginjal saat usia 19 tahun, akhirnya menjalani transplantasi ginjal dari Afaf pada 2001 silam. Untungnya Huda hidup di tengah keluarga yang saling menyayangi sepenuhnya. Seluruh kakak bahkan ibunya sampai harus “berebut” untuk mendonorkan ginjal mereka.
Tanpa disadari yang lain, Afaf secara diam-diam langsung melakukan pemeriksaan ke dokter, dan memutuskan ginjalnya-lah yang akan dicangkokkan ke Huda tanpa bisa dicegah yang lainnya. Huda akhirnya sukses cangkok ginjal. Namun ia hanya mampu bertahan selama 6 tahun saja. Ia menghembuskan nafas terakhirnya pada 2007 lalu, setelah perjuangan kerasnya melawan virus yang menyerang ginjal barunya. Kisah perjuangan Huda yang direkamnya dalam diari hariannya, akhirnya dibukukan oleh kakak lainnya, Siti Darojah.
Sementara Dadang Maulana, harus merasakan pukulan pahit pada usia 22 tahun. Nasibnya bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga. Beberapa saat setelah dinyatakan gagal lolos tes kesehatan seleksi masuk sebuah BUMN setamat kuliah, ia langsung dihadapkan pada vonis mengejutkan dari dokter. Ia mengalami gagal ginjal terminal alias stadium akhir. Ia mengaku tak merasakan atau mengalami gejala apapun, sehingga sangat membuatnya down. Saat disampaikan pada keluarga besar, seluruh keluarganya mendukung penuh untuk ia melakukan cangkok ginjal. Masalahnya, ginjal siapa?
Tak dinyana-nyana, sang ayah yang sudah lama berpisah sejak perpisahan dengan sang ibu, menyatakan merelakan ginjalnya untuk Dadang. Mucharam yang saat itu berusia 56 tahun, siap menanggung segala resiko karena faktor usianya. Dan kini, ayah dan anak itu telah berhasil mengarungi hidup sejak 1989 hingga kini dengan segala perjuangannya berusaha tetap sehat. Dadang dengan ginjal sang ayah, dan Mucharam dengan satu ginjalnya. Apa resep mereka mampu bertahan hingga 21 tahun lamanya?
Nasib Basyrah Nasution, tak jauh beda dengan kisah Dadang. Basyrah yang menjalani hidup secara sangat higienis, ternyata tak mampu menghindar dari vonis gagal ginjal kronis. Padahal Basyrah tak pernah merokok, selalu berolahraga secara rutin dan teratur, serta tak pernah mengkonsumsi obat-obatan antibiotik selama 10 tahun terakhir. Namun vonis yang berujung pada keharusan cangkok ginjal itu, tak membuat Basyrah dan sang istri, Sari Meutia terpuruk. Terutama Sari, yang selama ini menganggap hidupnya sudah too good to be true bersama Basyrah dan dua putra mereka. Sari justru terpacu untuk mencari solusi terbaik demi Basyrah, yang harus istirahat total dari pekerjaannya sebagai seorang kontraktor.
Sari menghabiskan hari-harinya untuk mencari informasi lewat berbagai sumber, cara dan tempat. Sedikit berbeda dengan kisah Huda dan Dadang yang didukung penuh keluarga besar, upaya pencarian donor ginjalnya, agak terbentur dari pandangan “kolot” keluarga besarnya, yang takut dengan resiko hidup dengan satu ginjal. Perjuangan keras Sari pun akhirnya berlabuh sampai di negeri tirai bambu, China. Perjuangan untuk transplantasi ginjal dengan ginjal orang China tak dikenal yang sedikit berbau “ilegal”, akhirnya sukses dilakukan pada 2009 lalu. Soal biaya, ada kisah mengharukan dari putra bungsunya, Avi, yang pernah berkata padanya “Mama, kalau biaya operasi Ayah kurang, jual Avi aja dulu buat menambahi sisanya, ntar, kan Mama bisa cari uang lagi untuk menebus Avi…”
Dan kisah die hard terakhir, dituturkan oleh Sonny F. Hadiwarsito. Boleh jadi Sonny adalah satu-satunya manusia di Indonesia, mungkin juga dunia, yang hidup dengan 4 ginjal karena telah menjalani cangkok ginjal hingga dua kali. Belum cukup, kini ia bersiap-siap untuk melakukan cangkok ginjal yang ketiga kalinya. Pengusaha properti dan dosen yang hobi otomotif ini, berjiwa pejuang sejati. Saat menekuni hobi otomotifnya, ia mengalami kecelakaan hebat. Akibatnya, ia harus hidup dengan tulang kaki palsu dan cacat tangan seumur hidup. Namun hal ini tak menyurutkan aktivitasnya. Hingga akhirnya ia divonis gagal ginjal kronis akibat konsumsi rutin obat antinyeri untuk sakitnya, serta imbuhan hipertensi yang dideritanya. Ia tak mau menyusahkan keluarganya, karena untuk menjadi donor ginjal diperlukan keikhlasan yang luar biasa. Dan China menjadi tujuan akhirnya untuk transplantasi ginjal pada tahun 2000.
Sukses cangkok ginjal, ia tak mau terkungkung aktivitasnya. Ia tetap menjalankan perusahaan, mengajar di kampus dan menekuni hobinya. Alhasil, ia terserang virus yang menggerogoti ginjal barunya. Ia pun harus ke China lagi, menambah jumlah ginjalnya hingga menjadi 4 buah pada tahun 2005 silam. Tak berakhir deritanya, kini ia divonis gagal ginjal untuk ketiga kalinya. Cuci darah kini harus dijalaninya seminggu tiga kali. Namun ia tetap tak menampakkan profil seorang yang menanggung beban super berat. Berkat dukungan istri tercinta, Sonny melalui hidupnya dengan semangat. Selain tiga aktivitas utama, ia justru menambahnya dengan menjadi seorang motivator dan mendirikan yayasan ginjal, untuk memberikan konseling dan bantuan bagi sesama penderita gagal ginjal. fb_ka
Minggu, 07 Maret 2010
Kepuasan Itu Terletak Pada Usaha Bukannya Pada Pencapaian
Suatu hari, seorang Professor yang sedang membuat kajian tentang lautan menumpang sebuah sampan. Pendayung sampan itu seorang tua yang begitu pendiam. Professor memang mencari pendayung sampan yang pendiam agar tidak banyak bertanya ketika dia sedang membuat kajian.
Dengan begitu tekun Professor itu membuat kajian. Diambilnya sedikit air laut dengan tabung uji kemudian digoyang-goyang; selepas itu dia menulis sesuatu di dalam buku. Berjam-jam lamanya Professor itu membuat kajian dengan tekun sekali. Pendayung sampan itu mendongak ke langit.Berdasarkan pengalamannya dia berkata di dalam hati, "Hmm. Hari akan hujan."
"OK, semua sudah siap, mari kita balik ke darat" kata Professor itu. Pendayung sampan itu akur dan mula memusingkan sampannya ke arah
pantai. Hanya dalam perjalanan pulang itu barulah Professor itu menegur pendayung sampan.
"Kamu dah lama kerja mendayung sampan?" Tanya Professor itu.
"Hampir seumur hidup saya." Jawab pendayung sampan itu dgn ringkas.
"Seumur hidup kamu?" Tanya Professor itu lagi.
"Ya".
"Jadi kamu tak tahu perkara-perkara lain selain dari mendayung sampan?" Tanya Professor itu.
Pendayung sampan itu hanya menggelengkan kepalanya. Masih tidak berpuas hati, Professor itu bertanya lagi, "Kamu tahu geografi?" Pendayung sampan itu menggelengkan kepala.
"Kalau macam ni, kamu sudah kehilangan 25 peratus dari usia kamu." Kata Professor itu lagi, "Kamu tahu biologi?" Pendayung sampan itu menggelengkan kepala. "Kasihan. Kamu sudah kehilangan 50 peratus usia kamu. Kamu tahu fisika?" Professor itu masih lagi bertanya.
Seperti tadi, pendayung sampan itu hanya menggelengkan kepala. "Kalau begini, kasihan, kamu sudah kehilangan 75 peratus dari usia
kamu. Malang sungguh nasib kamu, semuanya tak tahu.Seluruh usia kamu dihabiskan sebagai pendayung sampan." Kata Professor itu dengan nada mengejek dan angkuh. Pendayung sampan itu hanya berdiam diri.
Selang beberapa menit kemudian, tiba-tiba hujan turun. Tiba- tiba saja datang ombak besar. Sampan itu dilambung ombak besar dan terbalik. Professor dan pendayung sampan terpelanting. Sempat pula pendayung sampan itu bertanya, "Kamu tahu berenang?" Professor itu menggelengkan kepala. "Kalau macam ini, kamu sudah kehilang 100 peratus nyawa kamu." Kata pendayung sampan itu sambil berenang menuju ke pantai.
Morale of the Story:
Dalam hidup ini IQ yang tinggi belum tentu boleh menjamin kehidupan. Tak guna kita pandai dan tahu banyak perkara jika tak tahu
perkara-perkara penting dalam hidup. Adakalanya orang yang kita sangka bodoh itu rupanya lebih berjaya dari kita. Dia mungkin bodoh dalam bidang yang tidak adakena mengena dengan kerjayanya, tetapi "MASTER" dalam bidang yang diceburi.
Hidup ini singkat. Jadi, tanyalah pada diri sendiri,untuk apakah ilmu yg dikumpulkan jika bukan untuk digunakan dan boleh digunakan?
-MG-
Dengan begitu tekun Professor itu membuat kajian. Diambilnya sedikit air laut dengan tabung uji kemudian digoyang-goyang; selepas itu dia menulis sesuatu di dalam buku. Berjam-jam lamanya Professor itu membuat kajian dengan tekun sekali. Pendayung sampan itu mendongak ke langit.Berdasarkan pengalamannya dia berkata di dalam hati, "Hmm. Hari akan hujan."
"OK, semua sudah siap, mari kita balik ke darat" kata Professor itu. Pendayung sampan itu akur dan mula memusingkan sampannya ke arah
pantai. Hanya dalam perjalanan pulang itu barulah Professor itu menegur pendayung sampan.
"Kamu dah lama kerja mendayung sampan?" Tanya Professor itu.
"Hampir seumur hidup saya." Jawab pendayung sampan itu dgn ringkas.
"Seumur hidup kamu?" Tanya Professor itu lagi.
"Ya".
"Jadi kamu tak tahu perkara-perkara lain selain dari mendayung sampan?" Tanya Professor itu.
Pendayung sampan itu hanya menggelengkan kepalanya. Masih tidak berpuas hati, Professor itu bertanya lagi, "Kamu tahu geografi?" Pendayung sampan itu menggelengkan kepala.
"Kalau macam ni, kamu sudah kehilangan 25 peratus dari usia kamu." Kata Professor itu lagi, "Kamu tahu biologi?" Pendayung sampan itu menggelengkan kepala. "Kasihan. Kamu sudah kehilangan 50 peratus usia kamu. Kamu tahu fisika?" Professor itu masih lagi bertanya.
Seperti tadi, pendayung sampan itu hanya menggelengkan kepala. "Kalau begini, kasihan, kamu sudah kehilangan 75 peratus dari usia
kamu. Malang sungguh nasib kamu, semuanya tak tahu.Seluruh usia kamu dihabiskan sebagai pendayung sampan." Kata Professor itu dengan nada mengejek dan angkuh. Pendayung sampan itu hanya berdiam diri.
Selang beberapa menit kemudian, tiba-tiba hujan turun. Tiba- tiba saja datang ombak besar. Sampan itu dilambung ombak besar dan terbalik. Professor dan pendayung sampan terpelanting. Sempat pula pendayung sampan itu bertanya, "Kamu tahu berenang?" Professor itu menggelengkan kepala. "Kalau macam ini, kamu sudah kehilang 100 peratus nyawa kamu." Kata pendayung sampan itu sambil berenang menuju ke pantai.
Morale of the Story:
Dalam hidup ini IQ yang tinggi belum tentu boleh menjamin kehidupan. Tak guna kita pandai dan tahu banyak perkara jika tak tahu
perkara-perkara penting dalam hidup. Adakalanya orang yang kita sangka bodoh itu rupanya lebih berjaya dari kita. Dia mungkin bodoh dalam bidang yang tidak adakena mengena dengan kerjayanya, tetapi "MASTER" dalam bidang yang diceburi.
Hidup ini singkat. Jadi, tanyalah pada diri sendiri,untuk apakah ilmu yg dikumpulkan jika bukan untuk digunakan dan boleh digunakan?
-MG-
Langganan:
Postingan (Atom)